Soundpub – Surabaya kembali menjadi saksi semaraknya perayaan Hari Musik Nasional 2025. Dengan mengusung tema Sadarlah Jiwanya, Sadarlah Budinya untuk Indonesia Raya, perhelatan ini akan berlangsung pada 8–9 Maret, menampilkan berbagai kegiatan yang mengangkat nilai kebersamaan dan apresiasi terhadap musik Indonesia.
Komunitas JatiSwara sebagai penyelenggara utama menghadirkan serangkaian acara yang memperkuat semangat gotong royong. Bertempat di Komplek Taman Budaya Jawa Timur dan Makam Pahlawan Nasional W.R. Supratman, acara ini mencakup Konser Indonesia Mendoa, Parade Indonesia Bermusik 24 Jam, Diskusi Musik Membangun Bangsa, hingga Ziarah Musik Indonesia Raya.
Ketua Panitia, Nurhayati, menegaskan bahwa meskipun tahun ini acara mendapat dukungan dari kementerian, prinsip kebersamaan tetap menjadi pilar utama. “Dukungan yang kami terima tidak mengurangi semangat gotong royong yang menjadi fondasi kami sejak awal. Tahun lalu, kami bergerak secara swadaya, dan esensi itu tetap kami jaga,” ujarnya.
Musik sebagai Sarana Pemersatu Bangsa
Salah satu titik utama dalam perayaan ini adalah Konser Indonesia Mendoa, yang bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan refleksi perjalanan panjang musik Indonesia. Acara ini turut menghadirkan parade musik patrol, ziarah ke makam W.R. Supratman, serta diskusi mengenai peran musik dalam membangun karakter bangsa.
Sejumlah musisi dari berbagai latar belakang turut berpartisipasi, di antaranya Prita Kartika, Orkestra Amadeuse, Suara Nusantara Jawandaru, Oka Impremsif Riang Gembira, dan Kemuning Musik. Selain menikmati pertunjukan, masyarakat juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam parade musik yang disediakan oleh panitia.
“Kami ingin membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri melalui musik. Partisipasi aktif sangat kami harapkan,” tambah Nurhayati.
Menavigasi Tantangan di Bulan Ramadan
Momentum perayaan kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan, yang sering kali membatasi waktu kegiatan. Namun, bagi panitia, keterbatasan ini justru menjadi kesempatan untuk mengharmonikan refleksi spiritual dengan ekspresi budaya.
“Waktu yang terbatas karena ibadah tarawih bukan penghalang, tetapi justru momen untuk menyeimbangkan antara refleksi diri dan apresiasi seni,” jelas Nurhayati.
Meskipun begitu, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Berbagai komunitas musik di Surabaya, bersama dukungan dari Taman Budaya Jawa Timur, menunjukkan solidaritas luar biasa dalam menyukseskan perayaan ini.
Menggali Makna Musik untuk Masa Depan
Sejak ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, Hari Musik Nasional menjadi momentum untuk mengenang kiprah besar W.R. Supratman dalam membangun identitas bangsa melalui musik. Karyanya yang abadi menjadi simbol persatuan dan pengingat bahwa musik memiliki kekuatan membangun jiwa dan raga bangsa.
Tahun ini, perayaan Hari Musik Nasional akan dimeriahkan oleh 50 grup musik dan solois dari berbagai genre, dengan pertunjukan berlangsung selama 24 jam penuh. Puncak acara pada 9 Maret akan menghadirkan Konser Indonesia Mendoa, yang menampilkan sejumlah musisi ternama, termasuk Pritta Kartika, Higayon Singers, A’ak Agus Wayan, Annisatul Zulaikha, Khwarizmi Aslamriadi, Nakula Sadewa, Amadeus Orchestra, Kemuning Music, Sekaring Jagad, ZR Dance, Goong Prada, dan Surabaya Menari.
Tak hanya konser, rangkaian acara juga mencakup ziarah ke makam W.R. Supratman dan diskusi bertajuk “Musik Membangun Bangsa: Otokritik Fenomena Musik”. Diskusi ini akan menyoroti pergeseran nilai dalam industri musik, menghadirkan narasumber seperti Dr. Redy Eko Prastyo (sosiolog, Universitas Brawijaya) dan Dr. Suko Widodo (pakar komunikasi, Universitas Airlangga), serta dipandu oleh Guruh Dimas Nugraha dan Affandy Willy Yusuf.
Dalam forum tersebut, peserta diajak untuk merenungkan peran musik sebagai alat komunikasi yang tidak hanya mencerminkan budaya, tetapi juga membentuk pola pikir masyarakat. Salah satu isu yang diangkat adalah fenomena lagu-lagu dengan lirik eksplisit yang semakin populer, sementara lagu dengan kritik sosial justru mengalami tekanan.
“Jika musik adalah cerminan nilai masyarakat, maka perubahan dalam musik juga menunjukkan pergeseran pola pikir dan standar moral kita,” ujar Affandy Willy Yusuf. “Ini bukan hanya tanggung jawab musisi, tetapi juga pendengar dan seluruh elemen masyarakat.”
Membangun Kesadaran Baru melalui Musik
Momentum Hari Musik Nasional 2025 yang bertepatan dengan Ramadan menjadi pengingat penting akan peran musik sebagai sarana membangun karakter dan kebersamaan. Heri Lentho, pembina komunitas JatiSwara, menegaskan bahwa musik harus lebih dari sekadar hiburan.
“Musik harus menjadi medium yang menguatkan jiwa, mempererat kebersamaan, dan membawa kita lebih dekat kepada nilai-nilai luhur,” katanya.
Perayaan ini diharapkan dapat memicu kesadaran baru akan pentingnya musik yang berkualitas, inspiratif, dan mencerminkan kepribadian bangsa. Selain itu, perhelatan ini menjadi ajang refleksi bagi musisi, pendengar, dan pemangku kebijakan untuk lebih bijak dalam mengapresiasi musik.
Sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya yang universal, musik kembali diangkat sebagai instrumen penting dalam membangun bangsa. Hari Musik Nasional 2025 bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali peran musik dalam memperkuat identitas dan nilai kebangsaan.